Menentukan Sudut Pandang Cerita

Sudut pandang. Point of View.
SP. POV. Viewpoint.
Pasti tau dong, istilah-istilah di atas mengacu pada hal yang sama: posisi narasi dalam bercerita. Masalahnya, bagaimana menentukan sudut pandang yang tepat untuk cerita kita?

Waktu menuliskan novel kedua, aku banyak bergumul dengan hal ini. Novel itu berkali-kali kuganti sudut pandangnya, dari sudut pandang satu (POV1), ke sudut pandang tiga (POV3), lalu balik lagi, dan akhirnya dibuat menjadi sudut pandang tiga multiple (dari dua tokoh yang berbeda). Bener-bener proses yang ngga efisien.

Setelah riset di internet, ternyata banyak artikel bagus mengenai pemilihan sudut pandang dalam novel kita. Idealnya, dengan memikirkan poin-poin berikut di awal penulisan, kita bisa menentukan sudut pandang mana yang tepat untuk cerita kita. Semoga tips-tips berikut juga membantu kalian.

1. Cerita tentang siapakah ini?
Kalau fokus cerita hanya pada perjalanan hidup seorang tokoh saja, logisnya narasi pun diambil dari sudut pandang dia. Sebaliknya, kisah epik yang mengikuti perjalanan hidup banyak tokoh memerlukan multiple point of views untuk diceritakan.

2. Tokoh mana yang bebas beraksi?
Cerita dari sudut pandang Rapunzel bisa jadi membosankan kalau cuma menceritakan menara tempat dia dikurung, tanpa aksi dan konflik. Sebaliknya, kalau diceritakan dari sudut pandang sang ksatria yang berjuang membebaskan Rapunzel bisa lebih seru.

3. Apakah cerita akan lebih menarik kalau diceritakan dari sudut pandang beberapa orang?
Misalnya, kisah romance sering diceritakan dari sudut pandang sang cewek saja. Tapi seringkali ceritanya akan lebih seru kalau sudut pandang sang cowok pun diceritakan.

Tapi ingat, menambahkan tokoh utama berarti kamu juga harus memikirkan alur, perkembangan karakter, dan konflik yang jelas untuk dia. Jangan jadikan dia pemain figuran yang cuma numpang lewat saja.

OK, dari tadi cuma tentang memilih tokoh aja, bagaimana dengan POV1 vs. POV3? Di mana bedanya?

POV1 cenderung berkesan lebih intim, sementara POV3 cenderung lebih obyektif. Keintiman ini membuat pembaca lebih cepat berempati dan menaruh diri mereka di posisi sang tokoh. Di lain pihak, bahaya yang harus dihindari adalah berkesan terlalu ‘dear diary’ atau menceritakan setiap detail ‘aku begini, aku begitu’. Ini bisa diakali dengan membatasi kalimat yang dimulai dengan ‘Aku…’.

POV1 juga dianggap lebih mudah, karena penulis bercerita seolah dia yang mengalami semua kisah itu. Di lain pihak, penulis bisa mengalami kesulitan untuk mengisahkan tokoh yang sifatnya sama sekali tidak mirip dengan dirinya.

Gunakan pro dan kontra di atas sebagai acuan saja, karena kalau kita telah membuat plot dan tokoh yang menarik, serta pintar mengakali dan bermain dengan kata, cerita kita tetap akan menarik, tak peduli sudut pandang mana yang kita ambil.

Bagi yang berminat belajar topik ini lebih jauh, coba baca artikel bagus ini (bahasa Inggris).

 

16 Responses to Menentukan Sudut Pandang Cerita

  • Siro says:

    “Novel itu berkali-kali kuganti sudut pandangnya, dari sudut pandang satu (POV1), ke sudut pandang tiga (POV3),”

    percis mbak,. aku suka gitu. Lagi belajar nulis cerita, pas tengah-tengah cerita, karena menurut aku gak enak aku ubah pov, dibaca lagi, dirubah lagi pov-nya. Melelahkan, akhirnya malah bikin gak mau melanjutkan cerita.
    Aku coba tipsnya mbak,. ^_^

  • Siro says:

    “Novel itu berkali-kali kuganti sudut pandangnya, dari sudut pandang satu (POV1), ke sudut pandang tiga (POV3),”

    percis mbak,. aku suka gitu. Lagi belajar nulis cerita, pas tengah-tengah cerita, karena menurut aku gak enak aku ubah pov, dibaca lagi, dirubah lagi pov-nya. Melelahkan, akhirnya malah bikin gak mau melanjutkan cerita.
    Aku coba tipsnya mbak,. ^_^

  • Francisca Todi says:

    Hehe, rupanya aku bukan satu2nya yang seperti itu. :) Semoga tipsnya ngebantu, yah.

  • Riska s meilan says:

    Thanks ka ini sangat membantu para pemula seperti saya :)

  • veeashardi says:

    Thanks buat share ilmunya mba :D … Bermanfaat banget. sekalian mo minta ijin pasang blog mba sisca di blogroll aku ya… hehehe

    • Francisca Todi says:

      @veeashardi: Silakan pasang di blogroll, makasih udah mampir. :)

  • misni says:

    Pemahaman perbedaan POV 1 POV 2, dan POV 3 penting banget. Dalam beberapa kasus, penulis menggunakan POV 1-aku-, tapi sok tahu ttg segala hal. Misalnya tentang perasaan/kata hati lawan bicara. Bahkan dia menarasikan kejadian yang ia tidak ada di tempat.
    POV ketiga pun ada dua perbedaan POV ketiga yang serba tahu dan POV ketiga yang tidak serba tahu. Banyak penulis yang mencampuradukkan hal tsb.
    Dalam beberapa kasus juga, penulis mencoba menulis dengan multiple POV, namun tidak diberi keterangan/petunjuk sehingga pembaca bingung.
    Itu salah satu kesalahan fatal sehingga membuat penerbit mengembalikan naskah kepada penulis untuk direvisi, atau bahkan menolak naskah tsb meskipun ide ceritanya menarik.

    • Francisca Todi says:

      Misni: tepat sekali. Makasih udah bagi-bagi pengetahuan di sini. :)

  • hanifa says:

    berguna banget tipsnya :D

    tapi aku masih bingung kak… Misal pake POV 3, rasanya kurang dalem aja menceritakan tokoh dan apa yang dirasakan dia. Mau pake POV 1, ada dua tokoh utama yang masing-masing ingin kuceritakan. Kalo lempar melempar POV 1 dan 3, pasti nggak enak dibaca dong.

    mohon bantuannya kak :)

    • Francisca Todi says:

      Hai Hanifa,

      POV 3 juga bisa dalem kok, istilah Inggrisnya “deep Point of View”.
      Contoh:
      Darah Rani menggelegak. Kurang ajar! Berani benar Udin mengata-ngatainya seperti itu!

      POV 1 juga bisa dipakai untuk beberapa tokoh sekaligus. Biasanya, pergantian tokoh berarti pergantian bab, dan bab itu diberi nama tokoh sebagai judul.

      Triknya, setiap tokoh harus punya ‘suara’ yang berbeda, supaya pembaca bisa langsung membedakan, siapa ‘si aku’ yang sedang berbicara saat ini.

  • Dhilla says:

    Waahh.. Terima kasih sekali buat share ilmunya, Mbak Francisca ^^
    kalau boleh tau ada novel yang pake dua sudut pandang? kombinasi antara POV1 dan POV3.
    Makasih, Mbak :)

    • Francisca Todi says:

      Ada dong, misalnya Alex Cross-nya James Patterson. Di situ Patterson menceritakan sisi Cross dari sudut pandang pertama, dan tokoh lain dari sudut pandang ketiga. Contoh lain misalnya Robert Louis Stevenson (Treasure Island), Charles Dickens (Bleak House) danVladimir Nabokov (The Gift).

  • Jadi gak apa2 ya kak..menggunakan beberapa sudut pandang misal POV1dan2, POV2dan3, atau juga POV1,2,3 .banyak sekali cerita yg aku ubah dari dua,tiga sudut pandang mjd satu sudut pandang. yg pada akhirnya membuat aku malas menulis lagi..krn aku kira membuat cerita harus mengunggunakan 1 sudut pandang saja..thanks ya kak info… :)

  • Jadi gak apa2 ya kak..menggunakan beberapa sudut pandang misal POV1dan2, POV2dan3, atau juga POV1,2,3 .banyak sekali cerita yg aku ubah dari dua,tiga sudut pandang mjd satu sudut pandang. yg pada akhirnya membuat aku malas menulis lagi..krn aku kira membuat cerita harus mengunggunakan 1 sudut pandang saja..thanks ya kak infonya.bermanfaat sekali :)

    • Francisca Todi says:

      Mengubah sudut pandang boleh, asal ada alasan yang jelas untuk melakukannya dan dilakukan dengan baik (biasanya pada pergantian bab). Kalau ngga, pembaca bisa bingung & pusing bacanya. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Francisca Todi's Newsletter
Keep updated with my upcoming
books & giveaways
Share